Tampilkan postingan dengan label Curahan Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curahan Hati. Tampilkan semua postingan

Kepada Anakku Yang Durhaka


Anakku yang tercinta, ibu sangat menyayangkan kalau surat ini menjadi sarana komunikasi antara kita, akan tetapi dialah satu-satunya cara yang tersisa padaku, yang memungkinkan bagiku untuk memberitahukanmu tentang hal-hal yang harus kamu dengar dariku sebelum ibu meninggalkan kefanaan ini. Ibu, semenjak kamu menipu dan membuat ibu masuk ketempat (rumah sakit) ini, walaupun ibu tidak menginginkannya .. ibu tidak melihatmu kecuali sedikit sekali, oleh karena itu sekarang ibu ingin berbicara dan kamu akan mendengarkannya tanpa bisa memotong perkataan ibu.

Anakku tercinta … ketika surat ini sampai kepadamu berarti ibu telah meninggalkan kehidupan ini, dan mungkin saja kamu tidak akan membaca suratku ini selama-lamanya, oleh karena itu ibu merasa merasa perlu menyebar-luaskannya sehingga orang selainmu ikut membacanya, dengan demikian setiap anak yang durhaka adalah anakku …

Wahai anakku, sesungguhnya ibu merasa akan mati dalam waktu dekat, dokter telah memberitahukan bahwa kondisi kesehatan ibu kian melemah … dan keengganan ibu untuk mengkonsumsi obat membuat ibu membutuhkan darah tambahan dalam jumlah besar … ketika itu ibu berusaha untuk bersikeras agar tidak makan obat … akan tetapi kehendak dokter memaksaku untuk menyetujuinya karena ibu adalah seorang wanita yang mengimani bahwasanya darah-darah tersebut tidak akan mengembalikan sisa-sisa kehidupan ke-hati dan ruhku … karena pada detik-detik ini ibu melihat sayap-sayap malaikat maut didalam kamarku.

Wahai anakku, janganlah mengira, bahwa ibu dengan kata-kata ini berusaha untuk menarik simpatimu agar datang kepadaku. Tidak, bukan ini tujuan dan maksudku, karena ibu telah wasiatkan kepada pembawa surat ini agar tidak menyerahkannya kepadamu kecuali setelah ibu meninggalkan kehidupan. Karena ibu tahu bahwasanya selama ibu masih hidup kamu tidak akan membacanya, akan tetapi mungkin kamu akan membacanya setelah kematianku, karena kamu tahu bahwa dengan membacanya setelah kematianku tidak akan memberikan tanggung jawab apa-apa .. akan tetapi ini bukan berarti ibu tidak berangan-angan untuk melihatmu terakhir kalinya sebelum ibu mati, bukan saja karena ibu merindukanmu … akan tetapi juga karena lain-lain hal …

Diantaranya :

Pertama : ibu tidak ingin melewatkan sa’at-sa’at terakhir umur ibu sendirian, hanya ditemani oleh ketakutan-ketakutan dan pikiran-pikiran. Ibu berangan-angan seperti seorang muslim lainnya, pada sa’at-sa’at seperti itu mendapatkan orang yang menghormati ke-manusiaan-ku dan memperhatikan urusanku, mengarahkan wajahku kekiblat, dan mentalkinkanku dua kalimat syahadat serta mendo’akan rahmat untukku … apakah berlebihan apabila ibu berangan mendapatkan hak ibu yang islam sendiri telah menjaminnya untukku??

Sesungguhnya kesendirian yang ibu perhatikan pada kebanyakan wanita sepertiku mendorongku mengangankan apa yang ibu angankan …

Sesungguhnya kematian ditempat ini tidak ada harganya .. karena si sakit tidak lebih dari tempat tidur yang kosong pada hari pertama untuk diisi pada hari berikutnya oleh pesakitan lain, menanti gilirannya diatas papan penantian! Karenanya ibu tidak terlalu bersedih mendengar kematian salah seorang pasien. Kesedihanku yang paling besar adalah ketika ibu tahu bahwa dia, disa’at-sa’at kematiannya sendirian, tidak ada orang disisinya yang mentalkinkannya .. tidak ada orang yang dicintainya yang meneteskan air mata sedih karena kapergiannya .. selain dari air mata teman-teman sesama pasien yang sama-sama meniti jalan kesedihan …

Kedua : sesungguhnya ibu ingin mema’afkanmu .. dan ini tidak bisa ibu lakukan apabila kamu tidak datang kepadaku dengan air mata penyesalan diwajahmu seraya kamu berkata, “Ma’afkan saya Ibu” … tahukah kamu, kalau kamu melakukan ini ibu akan melupakan semua masa lalumu, dan ibu akan berdo’a kepada Allah agar Ia mengampuni segala kesalahanmu terhadapku. Ibu akan memohon dengan merendahkan diri kepada-Nya agar akhir hayatmu tidak seperti akhirku … akan tetapi ibu yakin bahwa kamu tidak akan melakukannya … dan kamu tidak akan datang … oleh karena itu janganlah menanti ma’af dariku wahai anakku … karena ibu, walaupun mema’afkanmu .. ibu tidak akan menjamin bahwa kamu akan selamat dari azab Allah yang tidak pernah lupa dan tidak tidur …

Ibumu yang terluka

(Ditulis oleh Ust Abu Zubair Al Haawary)
http://abuzubair.net/
READ MORE - Kepada Anakku Yang Durhaka

Dan Akhirnya Aku Tersadar Dari Kelalaianku

Tulisan ini adalah sebuah surat yang dikirimkan oleh salah seorang wanita yang mengisahkan kisah seorang korban dari sekian banyak korban pacaran, dan menjelaskan betapa jauh pengaruhnya terhadap dirinya, serta bagaimana para pelamar memalingkan padangan mereka darinya disaat mengetahui akan pamornya yang jelak, sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala meyelamatkannya dari jalan yang gelap gulita serta memberikannya petunjuk untuk taat pada perintah-perintah-Nya. Dia berkomentar dalam suratnya ini dengan mengatakan:

“Aku mengirimkan surat ini kepadamu karena aku merasa surat ini pantasuntuk disebar luaskan, sebab surat ini menjelaskan sampai sejauh mana bencana yang menimpa sebagian gadis di bawah slogan emansipasi dan pacaran!!! Akan tetapi yang menjadikan kita semakin bersedih adalah kejadian ini di dengardan di saksikan oleh para walinya. Aku tuliskan surat ini agar menjadi pelajaran bagi kaum laki-laki sebelum wanita, agar kaum laki-laki menjaga keluarga wanita mereka dan anak gadis mereka, agar tidak kehilangan harga diri dan terjatuh kedalam perangkap syaitan.

Korban ini, yang Allah Subhanahu wa Ta’ala selamatkan sebelum terjatuh kedalam jurang yang tak berdasar namanya F.A.Q, dia berkata:

“Aku dulu hidup dengan penuh kebebasan, sampai-sampai aku memiliki hubungan dengan para pemuda tetangga, dan aku membujuk mereka untuk berbicara denganku dan aku berlemah lembut kepada mereka.

Sungguh aku (waktu itu) sangat tidak punya rasa malu, aku menggunakan telephon untuk berhubungan dengan mereka. Sampai suatu saat ada seorang pemuda yang ketika melihatku langsung berkeinginan untuk melamarku. Akan tetapi ketika dia mendengarkan cerita tentang diriku sering disebut-sebut oleh pemuda lingkunganku, dia berpaling dariku dan memilih untuk menikah dengan adikku. Aku tidak sholat dan juga tidak menjalankan sedikitpun ajaran agama.

Pada suatu hari mobilu macet di tengah jalan, maka aku melambai-lambaikan tanganku dengan harapan agar ada mobil yang sudi unuk berhenti dan membantuku, aku lakukan hal ini beberapa lamanya.

Walaupun banyak pemuda yang berhenti dan turun, tetapi hanya untuk menikmati senyum dan memandangi tubuhku yang mirip telanjang. Di saat itu… ada sebuah mobil yang berhenti dan turunlah seorang pemuda yang biasa-biasa saja, tidak nampak padanya tanda-tanda orang yang beragama. Aku sangat terperanjat ketika dia tidak mau memadangiku dan hanya bekerja keras dan serius dalam membenahi mobilku.

Aku sangat keheranan karena dia tidak tergoda olehku dan juga tidak berusaha untuk merayuku sebagaimana dilakukan oleh para pemuda lainnya!? Maka aku berusaha untuk merayunya dan akupun tersenyum manis dihadapannya. Akan tetapi dia tetap tidak mau membalasnya. Dan ketika dia telah menyelesaikan pekerjaannya dan selesai dari memperbaiki mabilku, dia berkata kepadaku: ’Semoga Allah melindungimu, dan hendaknya engkau menutup dirimu’. Kemudian dia pergi meninggalkan aku dalam keadaan terheran-heran melihatnya. Akupun bertanya-tanya pada diriku: Apa yang menyebabkan seorang pemuda belia yang jiwa muda dan kelelakiannya sedang memuncak tidak terfitnah denganku, bahkan dia menasehatiku agar aku menutup diriku?!

Di sepanjang jalan aku bertanya-tanya: Kekuatan apa yang menahan pemuda itu? Akupun terus memikirkan perkataannya kepadaku, apakah aku dalam kebenaran? Ataukah aku sedang meniti jalan kebinasaan? Aku tidak henti-hentinya keheranan, sampai akhirnya aku tiba dirumah, dan kebetulan pada hari itu tidak ada seorangpun yang dirumah.

Dan ketika aku masuk rumah, tidak berapa lama datanglah suami adikku yang dulu hendak menikahiku, lantas diapun bercanda denganku… Sebagaimana kebiasaanku, akupun meladeninya dengan lirikan dan kata-kata yang manis, sampai-sampai dia berusaha untuk menodaiku. Saat itulah aku tersadar, dan aku merasakan betapa hinanya diriku. Perasaan yang tidak pernah aku merasakan sebelumnya, akupun menangis. Aku berhasil lolos dari srigala ini dalam keadaan selamat badanku, akan tetapi jiwaku sakit. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan? Dan apa penghujung jalan yang sedang aku tempuh…?

Akupun berusaha untuk mencari pelarian dari jiwaku yang gundah… Aku tidak mendapatkan sesuatu yang dapat melupakanku dari kejadian tersebut pada film-film, lagu-lagu, atau kisah-kisah.

Sehingga aku jatuh sakit beberapa minggu, kemudian aku berkenalan dengan beberapa wanita yang taat beragama, dan salah seorang dari mereka menasehatkan kepadaku agar aku melaksanakan sholat.

Sungguh mengherankan, ketika pertama kali aku melakukan sholat, aku merasakan adanya ketenangan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Maka akupun rajin melaksanakan sholat dan menghadiri ceramah, membaca Al-Qur’an dan akupun mengenakan hijab (busana muslimah) yang syar’iy.

Sampai-sampai pada suatu hari keluargaku keheranan ketika melihatku sedang sholat. Semenjak itulah aku meniti jalan yang benar dan berdakwah di jalan Allah, akupun meninggalkan jalan kesesatan.

Sekarang aku memiliki jadwal ceramah tentang hakikat taubat, keutamaan Allah Azza wa Jalla dan kemurahan-Nya terhadap segenap hamba-Nya dengan memudahkan jalan hidayah untuk mereka… Segala puji hanya milik Allah yang dengan nikmat-Nya hal-hal kebaikan dapat terlaksana…”.pent.

Sumber: Dlohiyah Mu’aakasah, dikutip dari http://darussalaf.or.id/, 
Penulis: Syaikh Salim Al-Ajmiy Hafizahullah Ta’ala 
Judul: Dan Akhirnya Aku Tersadar Dari Kelalaianku
READ MORE - Dan Akhirnya Aku Tersadar Dari Kelalaianku

Wahai Anakku, Kami Menginginkan Pahala Itu

Ya Bunayya,..engkau buah hati kami. Padamu tergantung masa depan kami. Dunia kami dan akhirat kami. Hilang letih dan lelah kami ketika melihat engkau beranjak dewasa tumbuh dengan akhlak mulia.

Wahai anakku,… engkau hidup di penghujung zaman yang semakin banyak kerusakan dan fitnah yang menyambar setiap detik nafasmu. Jikalau tidak engkau bergantung pada Zat Yang Maha Kuat dan Kuasa pada siapa lagi engkau kan berlari.

Kami tidak perduli melihat para orang tua yang sibuk memilih dunia untuk belahan jiwa mereka. Yang berkorban dengan apa saja agar anak-anaknya berhasil meraih pangkat dan kedudukan di hati manusia. Yang bila mana kami lupa memanggil anaknya dengan nama biasa, maka mereka akan segera tergesa-gesa meralat,.. maaf anak kami adalah seorang dokter panggillah nama depannya dengan jabatannya.

Duhai penyejuk hati yang gundah,… kami menginginkan dunia hanya sebagai bekal untukmu menuju akhirat yang abadi. Karena itu kami tidak kecewa bila mendapati nilai C pada matematikamu atau fisikamu. Tetapi sungguh kami akan menangis dan berduka bila engkau lalai pada perintah Rabbmu.

Duhai penyejuk mata,…. di hari yang semakin mendekati kepunahan. Tak lelah kami mendidikmu dengan Al-Qur’an. Betapa engkau sangat kami inginkan menjadi penghafal dan pengamal Al Qur’an. Siang malam kami bersabar dan tak kecewa membetulkan bacaanmu yang yang tertatih-tatih dan terlupa dari satu ayat Al-Qur’an.Demikian pula doa senantiasa kami panjatkan untuk kalian agar Allah memberi kemudahan.

Untukmu bunayya,… bersabarlah di hari yang sulit ini. Sungguh engkau akan menikmati jerih payahmuketika dewasa nanti.Janganlah engkau lupakan kami dalam doamu .Semoga Allah di kemudian hari, memberi kelapangan pada kubur kami yang sempit nanti.

Ya bunayya,…. engkau pasti kan bertanya, mengapa orang tua kami melakukan hal ini untuk kami? Jawabnya,… karena ia adalah suatu kebiasaan yang telah di wariskan oleh para pendahulu kita(salafus shalih).Begitu pula telah kami dapati dalam ucapan Nabimu yang mulia shalallahu alaihi wassalam diriwayatkan dari Buraidah bin Hushaib radhiyallahu anhu ia berkata: “Pernah ketika aku sedang berada di sisi Rasulullahshalallahu alaihi wassalam maka aku pernah mendengar beliau bersabda,

“Al-Qur’an itu akan menemui ahlinya pada hari kiamat ketika kubur telah terbelah seperti seorang laki-laki yang berwajah putih berseri. Ia berkata pada laki-laki tadi,”Apakah kamu mengenaliku?” dia menjawab,”Aku tidak mengenalimu” Ia berkata,”Aku adalah temanmu, Al-Qur’an yang dulu selalu membuat kering tenggorokanmu di siang hari dan begadang di malam hari. Dan setiap pedagang tentulah mengharapkan keuntungan dari barang dagangannya, dan kamu pada hari ini mendapatkan keuntungan dari usahamu.”Kemudian di berikan untuknya kerajaan di tangan kanannya dan keabadian (surga) ditangan kirinya, di letakkan mahkota kebesaran di kepalanya, dan dikenakan bagi kedua orangtuanya dua pakaian (teramat indah) yang belum pernah dikenakan oleh penduduk bumi. Keduanya berkata: ”Dengan amalan apa kami bisa memperoleh pakaian seperti ini?” Dikatakan: “Dengan (kesabaran)mu dalam mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anakmu” Kemudian diperintahkan kepadanya, Bacalah (Al-Qur’an) dan naikilah tangga-tangga surga dan masuklah ke kamar-kamarnya” Maka dia terus naik (derajatnya) selama dia membacanya dengan cepat atau dengan cara tartil (perlahan-lahan)” (HR. Ahmad)1

Dan juga dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu yang marfu’ (sampai) kepada Nabi shalallahu alaihi wassalam beliau bersabda,

“…. dan dikenakan kepada kedua orangtuanya dua pakaian indah yang tidak bisa dinilai dengan dunia dan seisinya. Keduanya berkata, “Ya Rabb, Bagaimana kami bisa mendapatkan balasan seperti ini !! dikatakan :”Dengan mendidik Al-Qur’an kepada anak-anakmu” (HR. Ath-Thabrani).2

Wahai bunayya,.. betapa kami menginginkan pahala itu. Kami-pun menyadari tidaklah mudah untuk mendapatkannya. Karena memang segala sesuatu harus diraih dengan kerja keras yang gigih dan kesabaran yang tak bertepi. Lelah dan letih kami akan di hargai-Nya karena Allah Yang Maha Mulia telah berfirman:

“Dan bahwasanya seorang manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya (39) dan bahwasanya usahanya itu kelak akan di perlihatkan kepadanya (40) Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna” (41). (An-Najm :39-41).

Sungguh kami yakin wahai bunayya,… jika sekiranya para orangtua mengetahui keutamaan dan kedudukan yang tinggi di sisi-Nya karena mengajarkan Al-Qur’an pada buah hati mereka, niscaya mereka akan berlomba-lomba untuk mengajarkan anak-anaknya Al-Qur’an, membimbing mereka untuk selalu membaca, menghayati maknanya dan mengamalkannya dalam kehidupan yang fana ini.

______________________
Sumber bacaan :
Tafsir Ibnu katsir jilid 9 , Pustaka Imam ASy-Syafi’i, Jakarta, 2008.
Keagungan Al-Qur’an Al-karim, Syaikh Mahmud Al Dosari, Maktabah Darus salam, Riyadh, 2006.
Murajaah oleh : Ustadz Eko Hariyanto Lc(Abu Ziyad)
Hadits riwayat Ahmad dalam kitab Al-Musnad,5/238 [↩]
Hadits riwayat Ath-Thabrani dalam kitab Al Ausath, 6/51, hadits no.5764. Syaikh Al-Bani menyebutkan hadits ini dalam kitab Silsilah Hadits Shahih, 6/792, hadits no.2829. [↩]
Sumber : http.jilbab.or.id, Sesuai teks aslinya.
READ MORE - Wahai Anakku, Kami Menginginkan Pahala Itu

Untuk Hatiku dan Hati Hati Para Pencari Ilmu

Dari Hudzaifah rodhiyallohu’anhu, beliau berkata : Aku mendengar Rosululloh Shallallohu ‘Alaihi Wassalam bersabda :

“Fitnah-fitnah akan mendatangi hati bagaikan anyaman tikar yang tersusun seutas demi seutas. Maka hati mana saja yang menyerapnya akan ditorehkan padanya satu titik hitam. Dan hati mana saja yang mengingkarinya akan ditorehkan padanya satu titik putih hingga menjadilah keadaan dua jenis hati tadi, hati yang sangat putih bagaikan batu putih yang sangat licin, tidak akan ada satu fitnahpun yang akan memudharatkannya selama langit dan bumi masih ada. Sedangkan hati yang lain adalah hati yang hitam dan kotor, baikan gelas yang terbalik. Hati yang tidak mengetahui perkara yang ma’ruf dan tidak pula mengingkari perkara yang mungkar, kecuali yang mencocoki hawa nafsunya” (HR. Al Imam Muslim no 144)

Ibnu Qayim rohimahulloh berkata :

“ALLOH menyerupakan datangnya fitnah ke hati sedikit demi sedikit saperti anyaman tikar yang disusun seutas demi seutas. Dan ALLOH membagi hati di saat datangnya fitnah-fitnah tadi menajdi dua jenis hati, yakni hati yang datang padanya fitnah, maka dengan serta merta menyerapnya sebagaimana batu apung yang menyerap air sehingga hati tadi menghitam dan terbalik. Inilah makna sabda beliau “bagaikan gelas yang terbalik/tertelungkup”.


Jika keadaan hati tersebut sudah menghitam dan terbalik maka akan muncul dengan sebab dua penyakit tadi, dua penyakit berikutnya yang sangat berbahaya yang saling menyeret orang tertimpanya untuk dilemparkan ke dalam kebinasaan. Dua penyakit tersebut adalah :

1. Tersamarkannya antara perkara yang ma’ruf (baik) dengan perkara yang mungkar, sehingga hati tersebut tidak bisa mengenali perkara ma’ruf dan tidak pula bisa mengingkari perkara yang mungkar. Bahkan terkadang penyakit tadi semakin mengacaukan keadaan hati tersebut sehingga dia meyakini perkara yang ma’ruf itu sebagai perkara yang mungkar sebagai sesuatu yang ma’ruf. Sunnah diyakini sebagai perkara yang bid’ah dan bid’ah diyakini sebagai suatu sunnah. Serta menganggap kebenaran sebagai suatu kebatilan, dan kebatilan diyakini sebagai kebenaran.

2. Adapun penyakit yang kedua adalah menjadikan hawa nafsunya sebagai hakim (penentu) dalam menghadapi apa yang dibawa oleh Rosululloh Shallallohu’Alaihi Wassalam dan senantiasa tunduk dan mengikuti hawa nafsunya.

Jenis hati yang kedua adalah hati yang putih (cemerlang) yang memancarkan cahaya iman dan berhiaskan cahaya tersebut. Jika fitnah mendatangi hati jenis kedua ini, serta-merta hati tersebut akan mengingkari dan menolaknya, sehingga hati tersebut semaikn kuat dan bercahaya.

Sesungguhnya fitnah-fitnah yang mendatangi hati merupakan sebab yang menjadikan sakitnya hati. Fitnah-fitnah tersebut adalah fitnah syahwat (hawa nafsu) dan fitnah syubhat (keracunan). Atau dengan istilah lain fitnah penyelewengan dan kesesatan ; fitnah maksiat dan bid’ah dan fitnah kedzaliman dan kebodohan.

Fitnah jenis pertama (yaitu fitnah syahwat) menyebabkan rusaknya niat adan keinginan seseorang dalam beramal.

Sedangkan fitnah jenis kedua (fitnah syubhat) menyebabkan rusaknya ilmu (pemahaman) dan I’tiqad (keyakinan) (Ighatsatul lahfan min mashayidisy syaithan 1/17).

Aku katakan (penulis-red) : dan hadist ini merupakan seruan nabawiyah agar kita berusaha untuk menjaga hati-hati kita. Betapa butuhnya kaum muslimin untuk menyambut seruan tersebut dan mengigitnya dengan gigi geraham (memeganginya dengan sekuat-kuatnya)

Disalin dari : At-Tanbihul Hasanu fi Mauqil Muslim minal Fitan (Pedoman Seorang Muslim dalam Menghadapi Badai Fitnah) Asy Syaikh Muhammad bin ‘Abdillah al-Imam

Penerjemah : Abu Hamzah Kaswa_Ash Shaf Media

Untuk Hatiku dan Hati Hati para pencari ilmu...
READ MORE - Untuk Hatiku dan Hati Hati Para Pencari Ilmu

Catatan Seorang Istri Sholehah

Suamiku ………

Terimakasih Kau Selalu Menemaniku .....



Sepekan berlalu setelah kelahiran putri kedua kita. Aku begitu bahagia, Allah memberikan amanah baru bagi kita. Seorang anak yang selama 7 bulan berada dirahimku, dimana kulalui malam demi malam dalam kontraksi panjang dan sakit pinggang.



Masih jelas kuingat wajah cemasmu saat menemaniku berjuang menghadirkan bayi kecil kita. Ada tatapan penuh cinta yang terpancar darimu, tatapan yang membuatku tegar saat aku harus menerima kenyataan bahwa bayi kecil kita lahir premature.



Genggaman tanganmulah yang meyakinkanku bahwa kita mampu menjadi orangtua hebat untuk seorang bayi yang kuat. Saat aku tak mampu menahan laju air mataku, engkaulah yang dengan cinta menghapusnya perlahan.



Suamiku, aku sadar betapa lemahnya aku tanpamu. Disaat aku tak memiliki kekuatan untuk bertahan, aku selalu memohon pada-Nya untuk menghadirkan kekuatan baru melaluimu. Dan…setelah satu setengah tahun mengarungi samudera hidup bersamamu, aku semakin yakin akan tanda-tanda kekuasaan-Nya.



Terimakasih untuk semua cinta yang kau hadirkan dalam hidupku. Sungguh aku tak pernah mencintai seseorang seperti aku mencintaimu sebelumnya.



Terimakasih untuk setiap kesabaran dan ketegaran yang kau hadirkan dalam rumah tangga kita. Meski aku tahu, kau pun laki-laki biasa yang kadang dapat lelah mengemudikan bahtera kita. Jangan pernah takut untuk berhenti sejenak dan mengumpulkan kekuatan baru, sayang. Karena aku akan selalu menemanimu, percayalah!



Terimakasih, karena kau telah menjadikan aku wanita yang seutuhnya. Kau menjadikan aku, ibu dari putri – putri kita yang menggemaskan. Aku berjanji akan mendidik mereka untuk selalu taat pada Rabb kita. Kekuatan Tertinggi Cinta kita.





Jika aku harus memilih memiliki tubuh langsing seperti sebelum menikah atau berperut buncit karena mengandung anak kita. Maka aku akan memilih untuk mengandung, karena disaat itulah aku rasakan kekuatan untuk melindungi dan mencintai..



Jika aku harus memilih memiliki payudara indah seperti para model atau payudara yang membengkak karena air susu. Maka aku akan memilih payudara membengkak yang mampu memberi kehidupan. Karena disanalah aku belajar untuk berkorban dan memberi kehidupan.



Jika aku harus memilih untuk melahirkan sesar atau berjuang untuk melahirkan. Maka aku akan memilih untuk berjuang sekuat tenaga melahirkan anak kita. Karena menunggu kelahiran anak kita dari menit ke menit, yang begitu menyakitkan adalah seperti menunggu antrian menuju Jannah-Nya. Sehingga ketika bayi kecil kita terlahir dengan Asma Allah, para malaikat pun tersenyum diantara peluh dan erangan rasa sakit.



Jika aku harus memilih hidup tanpa beban dan bebas seperti saat aku belum menikah atau hidup dengan segala keterbatasan bersamamu dan buah cinta kita. Maka aku akan memilih untuk selalu bersamamu.



Percayalah, aku tak pernah menyesali keputusan untuk menikah denganmu diusia dini, bahkan sebelum aku berhasil merampungkan kuliahku. Aku tak pernah menyesal memilih seorang laki-laki sederhana untuk menjadi Qowwam dalam rumahtangga. Karena laki- laki sederhana itu menghadirkan banyak cinta untukku.



Tetaplah bersamaku mengarungi bahtera ini, karena akan begitu banyak ombak yang akan menghadang lajunya. Tetaplah menggenggam tanganku dalam keyakinan berpasrah atas setiap ketentuan-Nya. Tetaplah mencintaiku dengan cinta yang tiada pernah ingkar…



Aku begitu bahagia menjadi istrimu….

(Ketika harapan baru lembaran kehidupan kembali terbuka) 

READ MORE - Catatan Seorang Istri Sholehah

Inikah Tipe Istri yang Antum Inginkan ?

Disadur dari buku "Kemuning Senja di Beranda Mekah" karangan Ustadz Abu Umar Basyir.

Tulisan ini saya angkat dari percakapan antara Rafiqah dengan Heryani (teman dekat rafiqah). Dalam percakapan itu, terlihat sekali bagaimana seorang Rafiqah (seorang wanita yg dipaksa menikah dgn pria pilihan Ayahnya), yg belum menemukan kebahagiaan yg diharapkannya dalam kehidupan rumah tangganya, sangat menjaga wibawa suaminya dan kehormatan keluarganya, dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan Heryani. Peristiwa ini terjadi di ruang tamu, di rumah 'pasutri' yg baru membina rumah tangga itu. Kita simak beberapa potongan cuplikan percakapan mereka di bawah ini:

"Bagaimana kehidupan rumah tanggamu Iqah (panggilan akrab Heryani kepada Rafiqah)?"

"Alhamdulillah, baik-baik saja. Semuanya terkendali kok." Ujar Rafiqah santai.
"Pram (suami Rafiqah) memang dibesarkan di lingkungan 'sekuler'. Cara berpikirnya melonjak-lonjak, berusaha menerobos segala etika dan kenormalan lingkungannya. Baginya, itu cara berpikir 'progressif'. Ia juga tidak pernah dididik dgn norma-norma keislaman secara detil. Ia shalat, tapi tak mengerti bahwa islam itu adalah 'the only way of life'. Namun sejauh ini, karakter dan kepribadiannya baik sekali. Bahkan bagiku sangat memikat. Mungkin ia bisa diibaratkan 'mutiara hitam', yg bila dipoles dgn tangan dingin secara akurat dan hati-hati, pasti menyemburatkan cahaya alaminya yg mempesona..." Rafiqah bertutur panjang.

"Aih,...Baru kali ini aku mendengarmu memuji-muji pria selain Aziz-mu (pria yg waktu dulu Rafiqah dambakan untuk menjadi suaminya) itu..." seloroh Heryani.

"Huss,..ngawur. Jelas dong, Pram itu khan suamiku Her (panggilan akrab Iqah kepada Heryani). Kamu ini gimana sih?" Mata Rafiqah membulat, mencoba menggertak temannya itu.

"Ok, aku sekarang serius Iqah. Apa menurutmu, Pram itu sudah tipikal ideal sebagai suami?" Tanya Heryani lagi.

"Kalau engkau bertanya saat ini, aku rasa ya. Aku tidak mengatakan bahwa ia adalah tipikal 'suami sempurna' seperti yg aku idam-idamkan. Karena kesempurnaan itu amat relatif. 'Ideal' tidak harus berarti 'sempurna'. Mendapat pasangan hidup yg ideal sudah merupakan anugerah Her. Terutama di zaman seperti ini. Sedikit orang yg punya kesempatan demikian. Kenapa aku katakan ia suami ideal bagiku?..
Karena meski kami memiliki cukup perbedaan dalam hal2 prinsipil, namun kami memiliki kesamaan yg ajaib:"
* Kami sama2 ingin belajar dan menata diri.
* Kami berusaha agar segala perbedaan itu bisa terkikis.
"Kamu jangan salah paham Her. Aku tak sedikit pun mau mengorbankan prinsip2 agama, apalagi aqidah yg aku yakini. Tapi, saat aku menuntut Pram utk bisa menyempurnakan sisi2 pemahaman agamanya, ia juga menuntutku menjadi istri yg patuh, yg mau senantiasa membantu suami. Dan itu tidak mudah. Aku perlu banyak belajar. Kami sering berbenturan pada sisi interpretasi pada kepatuhan itu. Aku membatasinya pada hal2 yg kuanggap tak melanggar aturan Allah. Dan ia sering tidak bisa menerimanya. Tapi aku sadar, ia tidak menerima bukan berarti ia kejam. Namun hanya karena ia belum bisa memahaminya." Jawab Rafiqah.

"Aku melihatmu berbeda Iqah."

"Berbeda bagaimana?" Tanya Rafiqah.

"Aku lihat, banyak di antara 'akhwat', yg meskipun sudah memiliki suami yg taat beribadah, sudah lama mengaji, tapi masih selalu mengeluhkan perbedaan2 sepele di antara mereka. Saat aku melihatmu menikah dgn Pram, aku pikir engkau akan sangat menderita. Dan engkau tak akan mampu keluar dari jembatan konflik yg akan memenjarakan kepribadianmua. Tp ternyata engkau mampu bersikap sedemikian dewasa. Optimisme dalam dirimu membuatku terkagum-kagum, Iqah." Jawab Heryani.

"Entahlah Her. Tp yg jelas, aku melihatnya (Pram) sebagai pria baik. Ia memiliki sifat dan karakter yg baik. Lalu ia menyukai wanita yg berjilbab lebar. Dalam hati kecilku tersimpan sebuah keyakinan, bahwa Pram bisa berubah lebih baik. Bagiku, untuk apa menyimpan timah bersepuh emas? Lebih baik aku memiliki emas yg terselubung lumpur hitam yg pekat sekalipun. Karena aku masih bisa berharap lumpur itu akan terbuang, dan kemuning emasnya akan berkilau suatu hari..." Sambung Rafiqah

"Jadi kamu nyaman bersama Pram?" Tanya Heryani lagi.

"Kok, kamu nanya gitu sih? Jelas dong. Pram itu khan suamiku. Aku mencintainya. Dan di lubuk hatiku yg dalam terselip sejuta harapan sekaligus keyakinan, bahwa Pram akan selalu menjadi lebih baik....aku yakin."

Di balik ruang tamu, sepasang mata meneteskan cairan bening. Ia terharu bukan main. Pemilik sepasang mata itu adalah Pram (suami Rafiqah), yg ternyata terbangun dari tidurnya, dan sempat mendengar sebagian ucapan2 'arif dan bijak' dari mulut istrinya. Pram kepayahan menahan gemuruh rasa haru di dadanya. Sungguh, ia merasa menjadi pria paling beruntung di dunia. Kenapa selama ia kuliah di UI Jakarta, dan saat ia menempuh pendidikan untuk meraih gelar S2-nya di Oxford University, London, ia tak pernah tertarik pada wanita manapun. Padahal secara fisik, banyak wanita yg lebih cantik dari Rafiqah. Kenapa ia justru terpikat pada Rafiqah 'at the first sight'? Wanita berjilbab lebar yg begitu sederhana tampilannya. Dan padahal, selama ini ia tak pernah membayangkan akan memiliki istri yg mengenakan gaun muslimah sempurna seperti itu. Ternyata Allah membimbingnya untuk menuju relung2 kesadaran, melalui keluhuran budi wanita mulia ini (istrinya sendiri). Subhaanallah!

Ia tak menyangka hati istrinya sebening itu. Cinta istrinya sebersih itu. Pandangan istrinya terhadapnya sejernih dan sebaik itu. Kepatuhannya selama ini kepada suaminya semulia itu. Justru dia, pria yg sungguh tak tahu malu ini, yg nyaris menjerumuskan wanita suci itu ke lembah kenistaan. Nyaris ia membuat istrinya terjebak dalam maksiat demi maksiat. Nyaris ia menjejali perut istrinya dgn makanan2 haram. "Ya Allah, betapa lalimnya aku sebagai suami," Pram mengeluh dalam batin. Air matanya tumpah ruah tak terbendung.......
READ MORE - Inikah Tipe Istri yang Antum Inginkan ?

- popular posts -

- followers -