Tampilkan postingan dengan label Manhaj. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manhaj. Tampilkan semua postingan

Hadits Shahih Sumber Hukum Syari’at, Bukan Hadits Dha’if




Selain bertopang pada al-Quran, hukum yang ditetapkan dalam agama Islam haruslah berlandaskan hadits shahih, bukan hadits dha’if. Allah ta’ala telah mengistimewakan agama ini dengan adanya sanad (jalur periwayatan) hadits. Sanad merupakan penopang agama. Oleh karena itu, hadits shahih wajib diamalkan, adapun hadits dha’if, wajib ditinggalkan. Seorang muslim tidak diperkenankan untuk menetapkan suatu hukum dari sebuah hadits, kecuali sebelumnya dia telah meneliti, apakah sanad hadits tersebut shahih ataukah tidak?

Abdullah bin Ahmad bin Hambal rahimahullah berkata,

سالت ابي عن الرجل يكون عنده الكتب المصنفة فيها قول رسول الله صلى الله عليه و سلم – والصحابة والتابعين وليس للرجل بصر بالحديث الضعيف المتروك ولا الاسناد القوي من الضعيف فيجور ان يعمل بما شاء ويتخير منها فيفتى به ويعمل به قال لا يعمل حتى يسأل ما يؤخذ به منها فيكون يعمل على امر صحيح يسال عن ذلك اهل العلم

“Saya bertanya kepada ayahku (Imam Ahmad) mengenai seorang yang memiliki berbagai kitab yang memuat sabda nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, perkataan para sahabat, dan tabi’in. Namun, dia tidak mampu untuk mengetahui hadits yang lemah, tidak pula mampu membedakan sanad hadits yang shahih dengan sanad yang lemah. Apakah dia boleh mengamalkan dan memilih hadits dalam kitab-kitab tersebut semaunya, dan berfatwa dengannya? Ayahku menjawab, “Dia tidak boleh mengamalkannya sampai dia bertanya hadits mana saja yang boleh diamalkan dari kitab-kitab tersebut, sehingga dia beramal dengan landasan yang tepat, dan (hendaknya) dia bertanya kepada ulama mengenai hal tersebut.“ (I’lam a-Muwaqqi’in 4/206).

Imam Muslim rahimahullah berkata, “Ketahuilah, -semoga Allah melimpahkan rahmat kepadamu-, bahwa seluk beluk hadits dan pengetahuan terhadap hadits yang shahih dan cacat hanya menjadi spesialisasi bagi para ahli hadits. Hal itu dikarenakan mereka adalah pribadi yang menghafal seluruh periwayatan para rawi yang sangat mengilmui jalur periwayatan. Sehingga, pondasi yang menjadi landasan beragama mereka adalah hadits dan atsar yang dinukil (secara turun temurun) dari masa nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga masa kita sekarang.” (At-Tamyiz hal. 218).

Imam Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah berkata,

فأما الأئمة وفقهاء أهل الحديث فإنهم يتبعون الحديث الصحيح حيث كان

“Para imam dan ulama hadits hanya mengikuti hadits yang shahih saja.” (Fadl Ilmi as-Salaf hal. 57) .

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

لا يجوز أن يعتمد فى الشريعة على الأحاديث الضعيفة التى ليست صحيحة ولا حسنة

“Syari’at ini tidak boleh bertopang pada hadits-hadits lemah yang tidak berkategori shahih (valid berasal dari nabi) dan hasan.” (Majmu’ al-Fatawa 1/250).

al-Anshari rahimahullah berkata, “Seorang yang ingin berdalil dengan suatu hadits yang terdapat dalam kitab Sunan dan Musnad, (maka dia berada dalam dua kondisi). Jika dia seorang yang mampu untuk mengetahui (kandungan) hadits yang akan dijadikan dalil, maka dia tidak boleh berdalil dengannya hingga dia meneliti ketersambungan sanad hadits tersebut (hingga nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan kapabilitas para perawinya. Jika dia tidak mampu, maka dia boleh berdalil dengannya apabila menemui salah seorang imam yang menilai hadits tersebut berderajat shahih atau hasan. Jika tidak menemui seorang imam yang menshahihkan hadits tersebut, maka dia tidak boleh berdalil dengan hadits tersebut.” (Fath al-Baqi fi Syarh Alfiyah al-’Iraqi).



Diterjemahkan dari Ushul Fiqh ‘ala Manhaj Ahli al-Hadits hal. 9-10, karya Zakariya bin Ghulam Qadir al-Bakistani.

Gedong Kuning, Yogyakarta, 5 Rabi’ ats Tsani 1431.
Penulis: Muhammad Nur Ichwan Muslim
READ MORE - Hadits Shahih Sumber Hukum Syari’at, Bukan Hadits Dha’if

Bid’ah dalam Perkara Duniawi


بسم الله الرحمن الرحيم 





Pertanyaan:
Wahai Sahamatus Syaikh, saya tahu adanya batasan yang rinci dalam membedakan antara sunnah dan bid’ah, namun tolong jelaskan kepada kami apa batasan antara bid’ah dalam agama dengan bid’ah dalam masalah duniawi.

Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baaz rahimahullah menjawab:
Dalam masalah duniawi, tidak ada bid’ah, walaupun dinamakan bid’ah (secara bahasa). Manusia membuat mobil, pesawat, komputer, telepon, kabel, atau benda-benda buatan manusia yang lain semua ini tidak dikatakan bid’ah walaupun memang disebut bid’ah dari segi bahasa, namun tidak termasuk bid’ah dalam istilah agama. Karena bid’ah secara bahasa artinya segala sesuatu yang belum pernah dibuat sebelumnya, itu semua disebut bid’ah. Sebagaimana dalam ayat:

بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
“Allah adalah Pencipta langit dan bumi” (QS. Al Baqarah: 117)

Maksud ayat ini yaitu Allah Ta’ala membuat mereka (langit dan bumi) yang sebelumnya tidak ada.

Demikian, secara bahasa memang istilah bid’ah secara mutlak dimaknai sebagai segala sesuatu yang belum ada sebelumnya. Andai perkara-perkara duniawi yang demikian biasanya tidak disebut sebagai bid’ah, semua itu tidak tercela walau dikategorikan sebagai bid’ah secara bahasa. Bahkan tidak diingkari, karena bukan perkara agama dan bukan perkara ibadah. Misalnya, jika kita katakan dibuatnya mobil, komputer, pesawat atau semisalnya adalah bid’ah, maka bid’ah di sini dari segi bahasa. Dan semua itu bukanlah kemungkaran dan tidak boleh diingkari. Yang diingkari adalah perkara-perkara baru dalam hal agama semisal shalawat-shalawat bid’ah, atau ibadah bid’ah lain yang. Inilah yang diingkari.

Karena syariat Islam harus dibersihkan dari bid’ah. Yang menjadi syari’at Islam adalah apa yang telah disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya, bukan apa yang diada-adakan oleh manusia baik berupa shalawat, puasa, atau ibadah lain yang tidak disyariatkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Karena agama ini telah sempurna, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu” (QS. Al Ma’idah: 3)



Sumber: Fatawa Nuurun ‘Ala Ad Darb juz 3 halaman 21 
—
Penerjemah: Yulian Purnama
Artikel Muslim.Or.Id

READ MORE - Bid’ah dalam Perkara Duniawi

Mengenal Para Ulama Pembaharu (Mujaddid) dalam Islam

 بسم الله الرحمن الرحيم

Dalam sebuah hadits yang shahih dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا”
“Sesungguhnya Allah akan mengutus (menghadirkan) bagi umat ini (umat Islam) orang yang akan memperbaharui (urusan) agama mereka pada setiap akhir seratus tahun.” [1]

Arti “memperbaharui (urusan) agama” adalah menghidupkan kembali dan menyerukan pengamalan ajaran Islam yang bersumber dari petunjuk al-Quran dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah ditinggalkan manusia, yaitu dengan menyebarkan ilmu yang benar, mengajak manusia kepada tauhid dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta memperingatkan mereka untuk menjauhi perbuatan syirik dan bid’ah. [2]
Perhitungan akhir seratus tahun dalam hadits ini adalah dimulai dari waktu hijrah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Mekkah ke Madinah. [3]
Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya), “…Orang yang akan memperbaharui (urusan) agama…,” tidak menunjukkan bahwa mujaddid di setiap akhir seratus tahun hanya satu orang, tapi mungkin saja pada waktu tertentu lebih dari satu orang, sebagaimana yang diterangkan oleh Imam Ibnu Hajar dan para ulama lainnya. [4]
Dalam hal ini, Imam Ahmad bin Hambal berkata, “Sesunguhnya Allah akan menghadirkan bagi umat manusia, pada setiap akhir seratus tahun, orang yang akan mengajarkan kepada mereka sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang banyak telah ditinggalkan manusia) dan menghilangkan/memberantas kedustaan dari (hadits-hadits) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [5]
Para ulama telah menyebutkan nama-nama para imam ahlus sunnah yang memenuhi kriteria untuk disebut sebagai mujaddid (pembaharu) dalam Islam, berdasarkan pengamatan mereka terhadap sifat-sifat mulia para imam tersebut.
Dalam tulisan ini, kami akan menyebutkan beberapa di antara para imam tersebut, beserta sekelumit dari biografi mereka.
Pertama, Umar bin Abdil Aziz bin Marwan bin Hakam al-Qurasyi al-Umawi al-Madani
Beliau adalah khalifah yang tersohor dengan keshalihan dan keadilannya, amirul mukminin, imam tabi’in yang mulia, penghapal hadits yang utama dan terpercaya. Lahir pada tahun 64 H dan wafat pada tahun 101 H.
Ibunya adalah cucu sahabat yang mulia Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu, namanya Hafshah bintu ‘Ashim bin Umar bin Khattab. [6]
Beliau diserupakan –dalam keadilan dan kelurusan akhlak– dengan kakek beliau Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu, –dalam sifat zuhud– dengan Hasan al-Bashri, dan –dalam ketinggian ilmu– dengan Imam az-Zuhri. [7]
Imam asy-Syafi’i memuji beliau dengan mengatakan, “al-Khulafa’ ar-Rasyidun (khalifah-khalifah yang mendapat petunjuk dan bimbingan Allah Subhanahu wa Ta’ala) ada lima orang: Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan Umar bin Abdil Aziz.” [8]
Para ulama ahlus sunnah telah bersepakat untuk menobatkan beliau sebagai mujaddid (pembaharu) pertama dalam Islam. [9]
Imam Ahmad bin Hambal berkata, “Sesunguhnya Allah akan menghadirkan bagi umat manusia, pada setiap akhir seratus tahun, orang yang akan mengajarkan kepada mereka sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang banyak telah ditinggalkan manusia) dan menghilangkan/ memberantas kedustaan dari (hadits-hadits) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian, kami melihat (meneliti sejarah), maka (kami dapati pembaharu) pada akhir seratus tahun pertama (hijriyah) adalah Umar bin Abdil Aziz, dan (pembaharu) pada akhir seratus tahun kedua adalah Imam asy-Syafi’i.” [10]
Kedua, Imam asy-Syafi’i (Abu Abdillah Muhammad bin Idris bin bin al-Abbas bin Utsman al-Muththalibi al-Qurasyi al-Makki)
Beliau adalah imam besar dari kalangan atba’ut tabi’in (murid para tabi’in), pembela sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ahli fikih yang ternama, penghapal hadits yang utama dan terpercaya. Lahir pada tahun 150 H dan wafat pada tahun 204 H. Nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. [11]
Imam Qutaibah bin Sa’id memuji beliau, dengan mengatakan, “Kematian Imam Syafi’i berarti kematian sunnah Rasulullah.” [12]
Imam Ahmad bin Hambal berkata, “(Kedudukan) Imam Syafi’i (di zamannya) adalah seperti matahari bagi bumi dan sebagai penyelamat bagi umat manusia.” [13]
Para ulama ahlus sunnah juga telah bersepakat untuk menobatkan beliau sebagai mujaddid (pembaharu) kedua dalam Islam. [14]
Imam Ahmad berkata: “…(Pembaharu) pada akhir seratus tahun kedua (hijriyah) adalah Imam asy-Syafi’i.” [15]
Imam Ibnu Hajar berkata, “Beliau adalah mujaddid (pembaharu) urusan agama Islam pada akhir seratus tahun kedua (hijriyah).” [16]
Ketiga, Hasan al-Bashri (Abu Sa’id al-Hasan bin Abil Hasan Yasar al-Bashri)
Beliau adalah imam besar dari kalangan tabi’in, syaikhul Islam, sangat terpercaya dalam meriwayatkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lahir pada tahun 22 H dan wafat 110 H. [17]
Beliau pernah disusui oleh Ummu Salamah radhiallahu ‘anha, istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan pernah didoakan kebaikan oleh Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu agar diberi pemahaman dalam ilmu agama dan dicintai manusia. [18]
Imam Muhammad bin Sa’ad memuji beliau dengan mengatakan, “Beliau adalah seseorang yang berilmu (tinggi), menghimpun (berbagai macam ilmu), tinggi (kedudukannya), sangat terpercaya, sandaran dalam periwayatan hadits, dan ahli ibadah.” [19]
Beliau termasuk ulama yang dinobatkan sebagai salah seorang ulama pembaharu pada akhir seratus tahun pertama (hijriyah). [20]
Keempat, Muhammab bin Sirin (Abu Bakr al-Anshari al-Bashri)
Beliau adalah imam besar dari kalangan tabi’in, syaikhul Islam, sangat wara’ (berhati-hati dalam masalah halal-haram), sangat luas ilmunya lagi sangat terpercaya, dan kokoh dalam meriwayatkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau wafat pada tahun 110 H. [21]
Imam Abu ‘Awanah al-Yasykuri berkata, “Aku melihat Muhammad bin Sirin di pasar. Tidaklah seorang pun melihat beliau kecuali orang itu akan mengingat Allah.” [22]
Beliau juga termasuk ulama yang dinobatkan sebagai salah seorang ulama pembaharu pada akhir seratus tahun pertama (hijriyah). [23]
Kelima, az-Zuhri (Muhammad bin Muslim bin Ubaidillah bin Abdillah bin Syihab az-Zuhri al-Qurasyi al-Madani)
Beliau adalah imam besar dari kalangan tabi’in, penghapal hadits yang utama, yang disepakati kemuliaan dan kecermatan hapalannya. Beliau wafat pada tahun 125 H. [24]
Imam Umar bin Abdil Aziz memuji beliau dengan mengatakan, “Tidak tersisa seorang pun (di zaman ini) yang lebih memahami sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam daripada az-Zuhri.” [25]
Imam Ayyub as-Sakhtiyani berkata, “Aku belum pernah melihat (seorang pun) yang lebih berilmu daripada beliau.” [26]
Beliau juga termasuk ulama yang dinobatkan sebagai salah seorang ulama pembaharu pada akhir seratus tahun pertama (hijriyah). [27]
Keenam, Yahya bin Ma’in (Abu Zakaria al-Baghdadi)
Beliau adalah imam besar dari kalangan atba’ut tabi’in (murid para tabi’in), ahli jarh wa ta’dil (penilaian terhadap para perawi hadits dalam bentuk pujian atau celaan) yang ternama, penghapal hadits yang utama, dan guru bagi para ulama ahli hadits. Lahir pada tahun 158 H dan wafat tahun 233 H. [28]
Imam Ahmad bin Hambal memuji beliau, dengan mengatakan, “Yahya bin Ma’in adalah orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala ciptakan (khusus) untuk urusan ini (membela sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam), dengan (jalan) beliau menyingkap kedustaan para pendusta dalam hadits (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam).” [29]
Beliau juga termasuk ulama yang dinobatkan sebagai salah seorang ulama pembaharu pada akhir seratus tahun kedua (hijriyah). [30]
Ketujuh, Imam an-Nasa’i (Abu Abdir Rahman Ahmad bin Syu’aib bin Ali bin Sinan)
Beliau adalah imam besar, syaikhul Islam, penghapal dan kritikus hadits kenamaan, serta sangat terpercaya dalam meriwayatkannya. Lahir pada tahun 215 H dan wafat tahun 303 H. [31]
Imam Abu Sa’id bin Yunus memuji beliau, dengan mengatakan, “Abu Abdirrahman an-Nasa’i adalah seorang imam (panutan), penghapal hadits, dan sangat terpercaya dalam meriwayatkannya.” [32]
Imam Abul Hasan ad-Daraquthni berkata, “Abu Abdirrahman an-Nasa’i lebih didahulukan (dalam pemahaman ilmu hadits) dibandingkan semua ulama hadits di zaman beliau.” [33]
Beliau juga termasuk ulama yang dinobatkan sebagai salah seorang ulama pembaharu pada akhir seratus tahun ketiga (hijriyah). [34]
Catatan penting:
1. Banyak imam besar Ahlus Sunnah yang terkenal dengan ketinggian ilmu dan pemahaman, serta kuat dalam menegakkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi mereka tidak dinobatkan oleh para ulama sebagai pembaharu dalam Islam di zamannya. Padahal, mereka sangat pantas untuk itu, seperti imam Malik bin Anas, Ahmad bin Hambal, al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan lain-lain. Hal ini disebabkan oleh masa hidup mereka yang tidak bertepatan dengan waktu yang disebutkan dalam hadits di atas, dan ini sama sekali tidak mengurangi tingginya kedudukan dan kemuliaan mereka. [35]
2. Di antara para imam Ahlus Sunnah yang dinobatkan oleh sejumlah besar ulama Islam sebagai pembaharu dalam Islam di abad ke-12 Hijriyah adalah Imam Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab at-Tamimi (wafat 1206 H) [36]. Dalam hal ini, syaikh yang mulia, Abdul Aziz bin Baz, berkata, “Di antara para imam (Ahlus Sunnah) yang mendapatkan petunjuk (dari Allah Subhanahu wa Ta’ala) dan da’i yang mengusahakan perbaikan (umat ini) adalah imam yang sangat dalam dan luas ilmunya, pembaharu ajaran Islam yang telah ditinggalkan (manusia) di abad ke-12 Hijriyah, dan penyeru kepada sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bin Sulaiman bin Ali at-Tamimi al-Hambali, semoga Allah memperindah (menerangi) tempat peristirahannya dan memuliakannya di surga sebagai tempat menetapnya.” [37]
3. Demikian pula, yang disebut-sebut para ulama sebagai pembaharu dalam Islam di abad ini, dua imam Ahlus Sunnah yang ternama: syaikh yang mulia, Muhammad Nashiruddin al-Albani, dan syaikh yang mulia, Abdul aziz bin Abdullah bin Baz, semoga Allah merahmati semua ulama Ahlus Sunnah yang telah wafat dan menjaga mereka yang masih hidup.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
Kota Kendari, 24 Rabi’ul Tsani 1431 H
Abdullah bin Taslim al-Buthoni
===
Catatan kaki:
[1] HR. Abu Dawud (no. 4291), al-Hakim (no. 8592), dan ath-Thabarani dalam al-Mu’jamul Ausath (no. 6527); dinyatakan shahih oleh Imam al-Hakim, al-‘Iraqi, Ibnu Hajar (dinukil dalam kitab ’Aunul Ma’bud: 11/267 dan Syaikh al-Albani dalam Silsilatul Ahadits ash-Shahihah, no. 599.
[2] Lihat kitab ’Aunul Ma’bud: 11/260.
[3] Ibid.
[4] Lihat kitab ’Aunul Ma’bud: 11/264.
[5] Dinukil oleh Imam adz-Dzahabi dalam kitab Siyaru A’lamin Nubala’: 10/46.
[6] Lihat kitab Tahdzibul Kamal: 21/432 dan Tadzkiratul Huffazh: 1/118.
[7] Lihat kitab Tadzkiratul Huffazh: 1/119.
[8] Dinukil oleh Imam adz-Dzahabi dalam kitab Tadzkiratul Huffazh: 1/119.
[9] Lihat kitab ’Aunul Ma’bud: 11/260.
[10]Dinukil oleh Imam adz-Dzahabi dalam kitab Siyaru A’lamin Nubala’: 10/46.
[11]Lihat kitab Tahdzibul Kamal: 24/355, Siyaru A’lamin Nubala’: 10/5, dan Tadzkiratul Huffazh: 1/361.
[12]Dinukil oleh Imam adz-Dzahabi dalam kitab Siyaru A’lamin Nubala’: 10/46.
[13]Dinukil oleh Imam al-Mizzi dalam kitab Tahdzibul Kamal: 24/372.
[14]Lihat kitab ’Aunul Ma’bud: 11/260.
[15]Dinukil oleh Imam adz-Dzahabi dalam kitab Siyaru A’lamin Nubala’: 10/46.
[16]Kitab Taqribut Tahdzib, hlm. 467.
[17]Lihat kitab Tadzkiratul Huffazh: 1/71 dan Taqribut Tahdzib, hlm. 160.
[18]Dinukil oleh Imam al-Mizzi dalam kitab Tahdzibul Kamal: 6/104.
[19]Dinukil oleh Imam al-Mizzi dalam kitab Tahdzibul Kamal: 6/104.
[20]Lihat kitab ’Aunul Ma’bud: 11/266.
[21]Lihat kitab Siyaru A’lamin Nubala’: 4/606, Tadzkiratul Huffazh: 1/77, dan Taqribut Tahdzib, hlm. 160.
[22]Kitab Siyaru A’lamin Nubala’: 4/610. Dalam sebuah hadits shahih Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wali (kekasih) Allah adalah orang yang jika (manusia) memandangnya maka mereka akan ingat kepada Allah.” lihat ash-Shahihah, no. 1733.
[23]Lihat kitab ’Aunul Ma’bud: 11/266.
[24]Lihat kitab Tadzkiratul Huffazh: 1/108 dan Taqribut Tahdzib, hlm. 506.
[25]Dinukil oleh Imam adz-Dzahabi dalam kitab Tadzkiratul Huffazh: 1/109.
[26]Ibid.
[27]Lihat kitab ’Aunul Ma’bud: 11/266.
[28]Lihat kitab Siyaru A’lamin Nubala’: 11/71 dan Taqribut Tahdzib, hlm. 597.
[29]Dinukil oleh Imam adz-Dzahabi dalam kitab Siyaru A’lamin Nubala’: 11/80.
[30]Lihat kitab ’Aunul Ma’bud: 11/266.
[31]Lihat kitab Siyaru A’lamin Nubala’: 14/125 dan Taqribut Tahdzib, hlm. 80.
[32]Dinukil oleh Imam adz-Dzahabi dalam kitab Siyaru A’lamin Nubala’: 14/133.
[33]Ibid: 14/131.
[34]Lihat kitab ’Aunul Ma’bud: 11/266.
[35]Ibid: 11/263.
[36]Lihat kitab ’Aqidatusy Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab as-Salafiyyah: 1/18.
[37]Ibid: 1/19–20.

READ MORE - Mengenal Para Ulama Pembaharu (Mujaddid) dalam Islam

- popular posts -

- followers -